Kamis, 15 April 2010

SIKAP MALU TANDA KEIMANAN

Sikap malu adalah sebuah bagian tak terpisahkan dari keimanan seseorang, iman dan malu akan selalu berjalan beriringan, semakin besar rasa malu seseorang maka akan semakin bertambah pula keimanannya, dan derajat tertinggi dari rasa malu adalah malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena dengan membawa rasa malu itu ia akan selalu merasa di awasi Allah Ta’ala dan akan selalu memperhitungkan segala hal perbuatan yang ia lakukan, sebaliknya jika rasa malu itu semakin berkurang maka akan semakin kurang juga keimanannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Keimanan ada tujuh puluh tujuh atau enam puluh tujuh cabang, keimanan yang paling utama adalah mengucapkan “Laa Ilaaha Illallaah”, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan. Sedangkan sikap malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” [Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Al-Bukhari (I/9) dengan lafadz “67 cabang”. Imam Muslim (I/35) dengan lafadz “77 cabang”.]

Dalam hadits shahih di atas disebutkan sifat malu adalah salah satu cabang keimanan tanpa disebutkan cabang yang lainnya, hal ini menunjukkan akan pentingnya sifat malu, selain itu dengan adanya sifat malu akan semakin mendorong pemiliknya untuk mencapai cabang keimanan yang lainnya, sedang dengan hilangnya rasa malu maka akan rusak cabang-cabang keimanan yang lainnya.

Sifat malu adalah sifat yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang lebih besar rasa malunya daripada perawan yang berada dalam pingitan. Jika beliau melihat sesuatu yang dia benci, kami bisa mengetahuinya dari rona wajahnya.” [HR Al-Bukhari (VI/3562-10/6102), Muslim (2330)]

Perhatikanlah wahai saudariku, bukankah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat pemalu, bahkan beliau lebih pemalu dari gadis yang dipingit? namun apa yang kita dapati pada anak-anak gadis zaman sekarang ini, mereka malah menyerang seorang ikhwan (kalau tidak bisa dibilang melecehkan) dengan godaan-godaan yang merayu, tawa genit dan kerlingan mata.. seharusnya ada dibentuk KOMNAS IKHWAN, untuk melindungi ikhwan dari pelecehan-pelecehan model seperti ini.

Rasa malu yang dimaksud adalah rasa malu yang diupayakan dengan pemahaman yang baik akan ilmu yang sesuai syar’i, Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Malu yang diupayakan inilah yang oleh Allah jadikan bagian dari keimanan. Malu jenis inilah yang dituntut, bukan malu karena watak atau tabiat. Jika seorang hamba dicabut rasa malunya, baik malu karena tabiat atau yang diupayakan, maka dia sudah tidak lagi memiliki pencegah yang dapat menyelamatkannya dari perbuatan jelek dan maksiat, sehingga jadilah dia setan yang terkutuk yang berjalan di muka bumi dalam wujud manusia.”

SIKAP MALU YANG TERCELA

Namun disamping itu semua ada juga sifat malu yang tercela, yang membuat pemiliknya semakin jauh dari kebaikan, yaitu sifat malu yang menjadikan pemiliknya sering mengabaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga mereka pemilik sifat malu ini malah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan kejahilan dan bid’ah, mereka malu untuk mendatangi majelis-majelis ta’lim yang syar’i, malu mengenakan pakaian taqwa yang justru mereka anggap nyeleneh atau malu kalau mengenakan gamis yang tebal dan cadar dibilang “istrinya teroris”, lebih dari itu mereka malu untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan lebih cenderung untuk liberal!

Padahal telah ada contoh yang mulia dari shahabiah yang mulia Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata.'Ummu Sulaim pernah datang kepada Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam seraya berkata. 'Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran. Lalu apakah seorang wanita itu harus mandi jika dia bermimpi ?. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab.'Jika dia melihat air (mani)'. Lalu Ummu Salamah menutup wajahnya, dan berkata.'Wahai Rasulullah, apakah wanita itu juga bisa bermimpi?' Beliau menjawab.'Ya, bisa'. Maka sesuatu yang menyerupai dirinya adalah anaknya". [Hadits shahih, ditakhrij Ahmad 6/306, Al-Bukhari 1/44, Muslim 3/223, At-Tirmidzi, hadits nomor 122, An-Nasa'i 1/114, Ibnu Majah hadits nomor 600, Ad-Darimi 1/195, Al-Baihaqi 1/168-169]

Maka pahamilah konsep malu yang syar’i sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga perbaikan tatanan masyarakat yang Islami akan terwujud, tidka cukup hanya slogan-slogan belaka, bukankah sudah terlalu banyak kerusakan yang muncul dari sebab hilangnya rasa malu ini wahai saudariku? Bertaqwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pakailah pakaian malu pada dirimu, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar