Dalam Ilmu tajwid ada yang dinamakan bacaan Ghorib, yaitu bacaan yang asing/aneh/tidak sesuai dengan kaidah ilmu tajwid pada umumnya. kebanyakan mengenai cara me-waqofkan huruf, namun ada juga beberapa yang khusus, di antaranya:
1. Saktah
Artinya Berhenti sejenak, lalu tanpa mengambil nafas baru, melanjutkan bacaan, ditandai dengan huruf 'Sin' pada rosm Utsmani, ato tulisan arab "saktah" di atas ayat nya pada cetakan Indonesia.
Ada di 4 ayat: surat al-Kahfi [18]: 1-2, Yaasiin [36]: 52, al-Qiyamah [75]: 27, dan al-Muthoffifin [83]: 14
contoh pada surat al-Muthoffifin, berbunyi "kalla bal rona", dibaca: "Kalla bal (berhenti,lalu tanpa mengambil nafas baru, dilanjutkan) rona..
2. Isymam
Artinya menampakkan, yaitu menampakkan dhommah yang terbuang dengan memonyongkan bibir.
Hanya pada surat Yusuf [11]: ayat 11 pada kata :laa ta'manna. karena aslinya kata "ta'manna" adalah "ta'manunnna", dengan 3 huruf Nun berderet: nu(dhommah)-n (mati)-na(fat-hah), dan dalam tata bahasa mana pun, tidak diizinkan 3 huruf yang sama berderet sekaligus, makanya huruf nun dengan dhommah dihilangkan, namun tetap diisyaratkan ada, dengan memonyongkan bibir. dan menggabung dua huruf nun sesudahnya menjadi satu huruf dengan tanda syiddah (tasydid).
jadi di baca: "laa ta'man(memonyongkan bibir sambil menahan dan mendengungkan nun (karena nun bertaysdid merupakan bacaan dengung)) baru kemudian dilanjut "..na"
3. Imalah
Yaitu mencondongkan, maksudnya Mencondongkan bacaan fathah (a) ke bacaan kasroh (i), sehingga terdengar seperti bacaan e. Hanya terdapat di surat Hud [10] ayat 41 pada kata "Majrooha", tanda fat-hah pada huruf "ro" di condongkan menjadi "re", jadi kata tersebut dibaca "Majreeha"
4. Tas-hil
Artinya melembutkan, yaitu melembutkan bacaan hamzah yang kedua pada dua huruf hamzah yang berderet, dan dua-duanya mempunyai harokat yang sama. Hanya pada surat Fushshilat [41] ayat 44
Pada kata "a-a'jamiiyu", hamzah yang kedua dibaca mengayun, tidak sejelas yang pertama. afwan kalo kurang jelas, silahkan dengar murottal pada ayat ini. Ato tanya pada ustadz dan guru ngaji terdekat. "(^^_)"
5. Naql (baca: Naqel)
Artinya memindahkan, dalam hal ini memindahkan kasroh huruf hamzah ke huruf sebelumnya. Hanya di surat al-Hujurot [49]: 11, pada kata "Bi'salismu"
Aslinya di baca "Bi'sal-ismu" namun tanda baca "i" dipindahkan ke huruf "lam" sebelum huruf hamzah (alif) pada huruf lam-alif tersebut, jadi huruf "lam" yang dibaca dengan harokat kasroh (Li), sehingga dibaca "Bi'salismu"
6. Mad Badal Asli
Perlu diketahui bahwa ada dua jenis huruf Hamzah, hamzah Washol (berbentuk seperti kepala huruf Shod) dan Hamzah qoth-tho' (berbentuk seperti kepala huruf 'ain). Namun sayangnya pada mush-haf cetakan indonesia Hamzah washol ditiadakan dan diganti dengan huruf alif dengan tanda harokat (fathah, kasroh, ato dhommah) saja.
Hukum Mad Badal Asli ini terjadi ketika dua huruf hamzah tersebut bertemu, dan huruf hamzah yang kedua (hamzah qoth-tho') bertanda sukun (mati). Hanya ada di surat al-Ahqof [46] ayat: 4.
Harus diperhatikan bagi yang membaca mush-haf cetakan Indonesia, karena peniadaan Hamzah washol tadi, tidak diberi keterangan apa-apa, ketika ada keharusan membaca dengan hukum Mad Badal Asli ini.
Perhatikan kata "u'tuuni", pada pertengahan ayat ini. Cara membacanya bukan "u'tuunii" tapi memberi tanda kasroh pada hamzah yang pertama dan memanjangkannya dua harokat, jadinya di baca "iituunii.
Tapi hal ini hanya berlaku ketika kita berhenti sebelum kata tadi, sementara kalo kita memilih melanjutkan bacaan, maka tetap dibaca Normal: "fis samaawaati'tuunii.." hingga akhir ayat.
7. Nun Wiqoyah
Keharusan membaca bunyi nun kasroh (Ni), ketika ada tanwin (fat-hah-tain, kasroh-tain, dommah-tain) bertemu hamzah washol. Hal ini dipermudah pada mush-haf cetakan indonesia dengan memberi tanda huruf nun kecil, di bawah ayatnya. namun tidak pada rosm Utsmani, karenanya hal ini harus diperhatikan.
contoh pada surat al-Baqoroh [2]: 180, ada kata "khoiron" (ro bertanda dhommah-tain) bertemu dengan hamzah washol pada kata "al-Washiyyah", nah. ini bukan dibaca "Khoirol-Washiyyah", tapi menyelipkan bacaan "ni" diantara nya, jadi dibaca "Khoironil washiyyah".
=======
Tujuh poin di atas adalah bacaan-bacaan ghoribah secara khusus, sementara ada beberapa (banyak sih..) bacaan lainnya yang menjadi ghorib/aneh, ketika diwaqofkan, ato ketika suatu huruf bertemu huruf tertentu, ato penambahan bunyi sebagai bantuan mempermudah bacaan, ato yang harusnya dibaca pendek koq dibaca panjang, dan masih banyak lagi. Apa aja?
InsyaAllah.. Biar ga kepanjangan.. bersambung yA..? "(^^_)>Ricky Rahadian Setelah ada 7 poin khusus mengenai bacaan Ghorib, yaitu bacaan yang asing/aneh/tidak sesuai ilmu tajwid pada imumnya, sekarang coba kita lihat bacaan-bacaan ghoribah lainnya pada al-Qur-an:
1. Huruf Shod yang dibaca Sin
biasanya ditandai dengan adanya huruf "sin" di atas huruf "shod". dan terjadi ketika ada huruf "shod" mati bertemu dengan huruf Tho. Tujuannya adalah untuk mempermudah dalam membacanya.
Contoh di surat al-Baqoroh [2]: 245, pada kata "wa yabsuthu", dan pada surat al-A'roof [7]: 69 pada kata "bas-thoh". huruf Shod dibaca tipis seperti huruf sin.
2. Idghom (Memasukkan bacaan)
di luar Idghom yang "normal" yaitu Idghom bi ghunnah dan bi la ghunnah, yang dasarnya adalah huruf nun mati ato tanwin bertemu dengan huruf-hurufnya.
Kali ini Idghom yang dimaksud adalah ketika ada dua huruf yang sama letak makhroj nya bertemu, dan huruf yang pertama bertanda sukun (mati) ato pada rosm utsmani tidak berharokat sama sekali.
Contoh pada ayat yang sudah akrab, pada surat al-Kafirun [109] ayat 4. "Wa Laa ana 'abidum maa 'abattum" di situ ada dua huruf yang sama makhroj nya yaitu huruf "dal" dan "ta". cara membacanya bukan "Abadetum" dengan memantulkan (qolqolah) huruf "dal", tapi meleburkannya ke huruf ta, sehingga huruf da seolah-olah tidak ada, jadi dibaca "abattum"
contoh lain ketika huruf "lam" dan "ro" bertemu, pada surat Thoohaa [20] ayat 114, misalnya, pada kata "wa qul Robbi", tidak dibaca demikian, tapi dibaca "wa qurrobbi".
contoh lain:
1. surat an-Nisaa [4]: 158 --> "lam" bertemu "ro" (Barrofa'a),
2. al-A'roof [7]:176 --> "tsa" bertemu "dza" (Yalhadzdzalika)
3. al-Mursalat [77]:20, --> "qof" bertemu "kaf" (Nakhlukkum)
4. Hud [10] ayat 42 --> "ba" bertemu "mim" (ya bunayyarkam ma'ana)
5. al-maaidaah [5]: 28 --> "tho" bertemu "ta" (basatta) dan,
5. an-Naml [6]:22 --> "tho" bertemu "ta" (ahattu)
Pada mush-haf cetakan Indonesia, hal ini dipermudah dengan memberi tanda Syiddah (tasydid) pada huruf yang keduanya.
3. Huruf Ziyadah
Yaitu huruf yang tidak difungsikan. Biasanya ditandai dengan lingkaran/bulatan di atas huruf alif, ya, dan wawu. Huruf ini dianggap tidak ada.
walaupun misalnya ada di atas huruf ya, sementara sebelumnya ada huruf berharokat kasroh (i), maka tidak boleh dibaca panjang.
contohnya pada surat 'Ali-Imron [3] ayat 144, pada kalimat "afaimma", normalnya hamzah berharokat kasroh diikuti huruf ya mati, maka hukumnya adalah mad Thobi'i (asli) dan dibaca 2 harokat, namun ketika ada tanda lingkaran tanda huruf ya tersebut adalah huruf ziyadah, maka hukum tersebut tidak berlaku.
4. Mad mubalaghoh
coba deh perhatiin, pada kata yang berakhiran "Hi" ato "hu", kalo sebelum huruf "hi" ato "hu" nya huruf mati, maka huruf "hi" ato "hu" dibaca pendek (1 harokat), seperti pada kata "Alaihi", "Fiihi" (ada huruf "ya" mati sebelum huruf "hi")
Tapi kalo sebelumnya huruf yang hidup maka bacaan "hi" ato "hu" itu dibaca panjang. seperti kata "innahuu" (huruf nun fat-hah), Bihii (ba kasroh), dll. Nah, itu nama Madnya adalah Mad Shilah.
Sementara mad mubalaghoh adalah pengecualiannya. Huruf "hi" dibaca panjang, dua harokat, padahal sebelumnya ada huruf "ya" mati. Hanya ada pada surat al-Furqoon [25]: 69, yaitu:
"wa yakhlud fiihii muhanaa".
=======
Wah.. wah.. baru empat poin tapi koq panjang bener yak? "(^^_),, masih ada lagi loh.. Biar ga bingung, segini dulu dah.. resapi n fahami dulu.. terus.. tunggu sambungannya..
Rekan-rekan, seperti janjiku, insya ALLOH aku akan menurunkan artikel mengenai cara Rasululloh SAW berpuasa di bulan Ramadhan. Artikel ini akan muncul dalam 6 bagian, agar ringkas sehingga mudah dibaca dan dicerna serta tidak sulit untuk diterapkan.
Silakan sebarkan artikel ini, insya ALLOH kita akan menuai kebajikan dari tiap amalan yg dilakukan
Artikel ini ringkasan dari kitab Sifat Saum Nabi fi Ramadhan
Karya Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Alhilai
1. Keutamaan Puasa
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al Ahzab : 35)
a. Puasa adalah perisai
Puasa adalah perisai, dengannya seorang hamba terjaga dari api neraka (hadits shahih riwayat Ahmad)
b. Puasa memasukkan ke surga
Dari Abu Umamah, ia berkata, aku bertanya Wahai Rasulullah tunjukkan kepadaku suatu amal yang memasukkanku ke surga, Nabi bersabda : Hendaknya engkau berpuasa, tiada yang menyamainya. (Hadits riwayat Nasai, ibnu Hibban, dan Hakim dan sanadnya shahih)
c. Orang yang berpuasa mendapatkan pahala tanpa hisab
d. Bagi orang yan berpuasa ada dua kegembiraan
e. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari bau kasturi
Dalil-dalil (c) , (d), (e) :
Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah bersabda : Setiap amal manusia terdapat pahala yang terbatas kecuali puasa, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku (Allah) yang membalasnya, dan puasa adalah perisai. Dan pada hari puasa janganlah kalian mengatakan atau melakukan perbuatan keji dan janganlah membuat gaduh, jika salah seorang kalian mencelanya atau membunuhnya maka hendaklah mengatakan : Sesungguhnya aku sedang berpuasa , demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditangannya benar-benar bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari bau kasturi, bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang ia gembira dengan keduanya : jika berbuka ia gembira, dan jika bertemu Allah dengan puasanya ia gembira. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
Dan dalam riwayat Bukhari :
Ia tinggalkan makanan dan minumannya serta syahwatnya lantaran-Ku, puasa adalah untukku, dan Aku yang akan membalasnya, dan kebaikan itu adalah sepuluh kali lipat semisalnya”.
Dan dalam riwayat Muslim :
Setiap amal manusia dilipatgandakan kebaikannya sepuluh kali lipat semisalnya hingga tujuh ratus kali lipat, Allah berfirman : kecuali puasa sesungguhnya puasa aku yang membalasnya, ia tinggalkan syahwat dan makanannya hanyalah lantaran AKU. Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka puasa, dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabbnya, dan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari bau kasturi.
f. Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafaat orang yang mengamalkannya
Rasulullah bersabda :
Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat, berkata puasa : Ya Allah, Engkau telah mencegah orang yang berpuasa dari makanan dan syahwat, maka berikanlah syafaatku padanya, dan berkata Al Qur’an : (Ya Allah) Engkau mencegahnya dari tidur pada malam hari, maka berikanlah syafaatku padanya, Allah berfirman :Keduanya akan diberi syafaat.(Hadits riwayat Ahmad dan Hakim).
g. Puasa adalah kaffaarah (penghapus dosa)
Dari Hudzaifah bin Yaman ia berkata, Rasulullah bersabda :Fitnah laki-laki pada keluarganya, hartanya, anaknya, tetangganya, dihapuskan oleh shalat, puasa dan sedekah. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
h. Pintu syurga yang bernama Ar Rayyan bagi orang yang berpuasa
Dari Sahl dari Nabi bersabda :Sesungguhnya dalam syurga terdapat sebuah pintu yang bernama Ar Rayyan, orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya pada hariu kiamat, dan selain mereka tidak akan masuk melaluinya.
Dikatakan : Dimanakah orang-orang yang berpuasa? Maka mereka pun berdiri.
Dan selain mereka tidak akan memasukinya .
Maka jika orang-orang yang berpuasa sudah memasukinya ditutuplah pintu itu dan tidak seorangpun akan memasukinya, Dan barangsiapa yang telah masuk ia pasti minum dan barangsiapa yang minum ia tidak akan kehausan selamanya. (Hadist riwayat Bukhari dan Muslim)
2. Keutamaan bulan Ramadhan
a. Bulan Al Qur’an
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (Al Baqarah : 185)
b. Dibelenggunya Syaitan
Jika telah tiba bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu syurga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah syaitan-syaitan. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
c. Lailatul Qadr
Tersebut dalam pembahasa no 19
3. Wajibnya puasa Ramadhan
a. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka itulah yang lebih baik darinya.
Dari keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan diatas, Allah mewajibkan puasa Ramadhan atas kaum muslimiun, dan oleh karena memutuskan jiwa dari syahwatnya dan menutup jiwa dari keinginan-keinginan syahwat adalah perkara yang paling berat, maka diakhirkanlah wajibnya puasa Ramadhan hingga sampai tahun kedua hijriyah.
Dan tatkala hati-hati telah tertanam tauhid dan mengagungkan syiar-syiar Allah, maka dipindahkanlah hati dengan cara bertahap. Maka dimulailah awal kali dengan kebebasan memilih disertai anjuran untuk melaksakan puasa, karena dahulu puasa terasa berat oleh para sahabat,dahulu barangsiapa berkeinginan tidak berpuasa dan membayar fidyah maka ia melakukan hal itu, Allah berfirman :
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Al Baqarah : 184)
b. Karena itu barangsiapa hadir di negeri tempat tinggalnya pada bulan itu hendaknya ia berpuasa pada bulan itu. Lalu turunlah ayat sesudahnya menghapus hukum sebelumnya, dan mengabarkan tentang hal ini dua orang sahabat Nabi Abdullah bin Umar dan Salamah bin Al Aqwa (semoga Allah meridhai keduanya) :
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al Baqarah : 185)
Dari Ibnu Abi Laila ia berkata : telah bercerita kepada kami sahabat-sahabat Nabi :Tatkala tiba bulan Ramadhan terasa berat hal ini oleh sahabat-sahabat Nabi, dahulu barangsiapa memberi makan setiap hari orang miskin ia meninggalkan puasa dan termasuk orang-orang yang berat menjalankannya, dan mereka diperbolehkan untuk melaksanakan seperti ini.
Maka dihapuslah hal itu dengan ayat :
Dan berpuasa lebih baik bagimu (Al Baqarah : 184)
Maka setelah itu puasa Ramadhan menjadi termsuk pondasi Islam, dan salah satu rukun dari rukun-rukun Agama, berdasarkan sabda Rasulullah :
Islam dibangun diatas lima perkara : Bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah, dan mendirikan shalat,menunaikan zakat, menunaikan haji ke ka’abah, dan berpuasa Ramadhan. (Bukhari dan Muslim)
